Monthly Archives: Mei 2017

Pamong Desa Ploso Yang Unik

INFORMASI LOMBA DESA (KRENOTEK)

PERUBAHAN JADWAL

LOMBA KRENOTEK TAHUN 2017

Sosialisasi Lomba: 1 Maret s/d 30 Mei 2017

Pendafrtaran dan Seleksi administrasi : 1 Maret s/d 20 Juni 2017

Penilaian dan seleksi dihasilkan nominator untuk masuk penilaian Tahap final : 21 Juni s/d 22 Juni 2017

Pengumuman finalis : 30 Juni 2017

Presentasi Finalis : 10 Juli dan 13 Juli 2017

Tinjau Lapangan : 17 Juli s/d 20 Juli 2017

Pengumuman pemenang : 31 Juli 2017

peyerahan Hadiah : 5 Agustus 2017

(Agenda malam prosesi HUT kabupaten Bitar)

Wisata Religi Desa Ploso Kec. Selopuro Kab.Blitar

Blitar-KH Hasbulloh, dan KH Dimyati, merupakan kiai berpengaruh dari Desa Ploso, Kecamatan Selopuro. Kini sepeninggal kiai, yang merupakan ayah dan anak, makam keduanya di Dusun Kasim, Desa Ploso, menjadi jujugan para peziarah dari berbagai kota. Untuk mengenang jasa-jasa beliau digelar dzikir akbar Majelis Dzikir Kanzul Jannah “Jumpa Sehat” pada Kamis Legi malam Jumat Pahing. KH Hasbulloh, dikenal sebagai Kiai Nalindra, yakni seorang ksatria merangkap kiai dan pejabat, yakni pernah menjabat legislatif dan Kepala Desa Ploso. Nama kecil KH Hasbulloh, adalah Irdali dan berganti Roihuddin, setelah mondok. Ketika naik haji namanya ditambah menjadi KH Hasbulloh. Konon beliau adalah keturunan Sunan Geseng, dan lahir di Kali Watubumi, Bedug Butuh, Begelen, Purworejo, Jawa Tengah.

Semasa hidup beliau menikah dua kali. Dalam pernikahan pertama dengan Nyai Siyam, dikaruniai seorang anak, Nyai Saroh. Setelah cerai, menikah lagi dengan Nyai Maryam, dan pernikahan kedua ini, KH Hasbulloh, dikaruniai tujuh anak, yakni H Sofwan, Nyai Munawwaroh, Wuryan, KH Dimyati, Nyai Rohbiah, Hj Ruqoyyah, dan Gus Kafi. Dengan bantuan KH Abdul Ghaffar, Gading Selopuro, Roihuddin menerima tanah hibah dari KH Syamsudin, Gading di Dusun Baran, Desa Ploso dan menjadi cikal bakal Pondok Baran. Beberapa santrinya antara lain, KH Kolil, KH Sodhiq Damanhuri, KH Ridwan, KH Abbas Toegoeng, KH Mawardi, KH Syamsudin, KH Samsuri, dan KH Bakri.
Sementara itu, KH Dimyati selama hidupnya dikenal sebagai kiai yang memiliki karomah yang tinggi. Tak hanya itu, KH Dimyati adalah kiai yang sangat dermawan dan pandai merahasiakan sedekah. Serta tidak pernah membuat repot, apalagi menyakiti orang. Dengan kelebihan-kelebihan tersebut, KH Dimyati mendapatkan sebutan sebagai Kiai Pendito. Tak hanya itu, beliau juga gigih dan berani menegakkan kebenaran. KH Dimyati, sendiri lahir di Dusun Baran, Desa Ploso, pada 1921 dan wafat pada 1989, dalam usia 68 tahun. Sejak kecil, memang KH Dimyati dikenal pendiam dan suka menyendiri. Beliau menikah pertama dengan Nyai Rufiah Mondo, dan dikaruniai seorang anak, yakni Mahfud. Setelah cerai, KH Dimyati menikahi Nyai Muawanah dan dikaruniai empat anak, yakni Lailatul Badriyah, Ngatiqullah, Umi Mukarommah, dan Barroh. Semua anaknya telah wafat mendahului Mbah Dim, selain Hj Umi Mukarommah. (admindesa)

 

Koodinasi SOTK dgn kasi pem kec

  • Informasi dari kasi pem kec Sucipto, S.Sos desa harus menyelesaikan prodeskel terlebih dahulu untuk menentukan klasifikasi desa